[KISAH PENERIMA DONASI]
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Kisah Mbah Sumbruk
Orang-orang di desa biasa memanggilnya “Mbah Sumbruk”. tak ada yang tau pasti umurnya sekarang dan latar belakang keluarga. Selama ini, ia hidup sebatang kara. Belum menikah sejak gadis, pun tak ada seorang keluarga yang menemani. Mbah Sumbruk tinggal di sebuah rumah berukuran 3×2 meter. Berdiri diatas tanah menempel disebuah rumah, yang jelas bukan ia pemiliknya. Jangan harap menemui ruang tamu ataupun kamar mandi, hanya tersedia kasur dan alat masak seadanya. Tak ada teras dan listrik, kondisi tempat sanitasi dan penerangan pun serba minim.
Dulunya ia bekerja sebagai penganyam _kloso mendong_ (red : sebuah tikar yang berasal dari anyaman tumbuhan ‘mendong’). Namun sejak lama pula, tikar hasil karyanya sepi peminat. Orang-orang lebih senang memakai tikar yag berasal dari bahan sintetis.
Sekarang, ia tak bisa bekerja. Usianya senja tenaganya renta. Saat itu bantuan dari pemerintah belum bisa turun karena keterbatasan dokumen/ surat identitas.
Namun, Alhamdulillah berkat orang-orang baik yang ikut berdonasi dengan perantara KOPMA UNS dan ACT menjadi keberkahan sendiri bagi mbah sumbruk dan penerima donasi yang lain.
Sebuah cerita yang dibagikan oleh Tim ACT kepada Kopma UNS ini, tentunya kita diingatkan untuk selalu berbuat kebaikan.
Jadi Tunggu Apalagi,
Yuk Tebarkan Kebaikan dimanapun kita berada
Tinggalkan Balasan